PKS Payakumbuh. Diberdayakan oleh Blogger.

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Headline. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Headline. Tampilkan semua postingan

Gubernur Ahmad Heryawan Alami Kecelakaan Beruntun di Pamanukan

Written By Birrul waalidain on Rabu, 11 Maret 2015 | 19.07


PKS Payakumbuh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengalami kecelakan beruntun di Pamanukan, Jawa Barat. Akibat kecelakaan tersebut, kendaraan yang ditumpangi Kang Aher penyok. “Iya kendaraannya penyok. Tapi orangnya tidak apa-apa,” kata Ketua Dewan Syariah Pusat PKS, Surahman Hidayat saat dikonfirmasi di lapangan, Rabu (11/3).

Menurut Kepala Biro Humas, Protokol, dan Umum Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat Ruddy Ganda Kusumah, Peristiwa kecelakaan beruntun yang dialami Gubernur Jawa Barat terjadi di Pamanukan. Beruntung, tak ada korban jiwa dan luka-luka dalam kejadian pagi tadi (11/3). Rombonganpun meneruskan perjalanan ke Indramayu, Jawa Barat.

Aher dijadwalkan mendampingi Menteri Pertanian dalam acara Pembukaan Mimbar Saresehan KTNA dan Panen Perdana Padi Musim Tanam 2014/2015 di kantor Desa Sukamelang, Kecamatan Kroya, Indramayu.

Sumber: Depoknews

Celeg PKS Tukang Tambal Ban Akhirnya Terpilih Jadi Anggota Dewan

Written By Birrul waalidain on Jumat, 25 April 2014 | 18.14


PKS Payakumbuh - SUBANG - Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014 telah usai. Ditengah gempuran 'bom' partai-partai berduit, PKS Subang, Jawa Barat, tetap eksis. Meski secara total suara hanya menduduki ranking 6, tapi perolehan kursi fenomenal, yaitu 7 kursi. Hal ini berarti PKS menempati rangking 2 perolehan kursi DPRD sama dengan Partai Golkar. 

Nah, dari 7 caleg PKS Subang yang lolos menjadi anggota dewan salah satunya adalah Pak Raska, tukang tambal ban yang profilnya ramai diberitakan media massa saat masa kampanye, bahkan ikut ditampilkan di acara Mata Najwa.

Raska lolos ke DPRD Subang dari dapil 7 (Cikaum, Purwadadi, Tambakdahan, Binong).

Sebagai tukang tambal ban, Raska mendapatkan penghasilan perharinya itu mencapi Rp50 ribu. Adapun untuk modal pencalonannya sebagai anggota dewan, dirinya mengaku tidak punya apa-apa. "Nggak ada modal, ya modal saya itu pas-pasan," tuturnya. 

Untuk menjadi caleg tersebut dirinya tidak memiliki modal apa-apa. Namun karena banyak dukungan dari masyarakat sekitar, dirinya bertekad untuk menjadi caleg. "Siapa tahu dengan menjadi caleg saya bisa menjadi orang berguna bagi banyak orang," tambahnya.

"Alhamdulillah saya mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat, saya tidak akan menyia-nyiakan dukungan itu," kata Raska.

Data dari KPU Subang, 50 anggota DPRD periode 2014-2019 hasil Pileg pada 9 April lalu tersebar di berbagai partai:

- PDIP 10 kursi
- PKS 7 kursi 
- Golkar 7 kursi
- Gerindra 5 kursi
- Demokrat 5 kursi
- PKB 5 kursi
- Nasdem 3
- PAN 3 kursi
- Hanura 3 kursi
- PPP 2 kursi

(Piyungan/rfk)

Irwan Prayitno Berantas Tenda Ceper Dengan Twitter?


PKS Payakumbuh Padang – Gubernur Sumbar Irwan Prayitno hari ini (24/4/14) melalui akun twitternya @irwanprayitno menyampaikan jawaban seputar permasalahan tenda ceper di pantai Padang yang selama ini menjadi bahan pembicaraan hangat masyarakat, tidak hanya di Padang atau Sumbar, tetapi sudah skala nasional.

Irwan Prayitno menyatakan, “PJs Wako Padang sudah berkali-kali melakukan pembersihan tenda ceper. Pembersihan dan penanganan tenda ceper ini akan diseriusi oleh Wako Padang yang baru”. Kicauan Irwan Prayitno ini mendapat tanggapan sejumlah folowernya, di antaranya @erlindakartika yang menyatakan, “Mudah-mudahan terlaksana ya pak. Gak ditunda-tunda lagi. Malu sekali rasanya kalo melihat ini”.

Follower lain @maruhunmaruhun juga menanggapi, “Mantap tu mak.. tu baru “action” namonyo mak”. Yang dimaksud “mak” ini adalah panggilan “mamak” yang kira-kira sepadan dengan kata “paman”. (dep/rfk)

Petani Payakumbuh Puas Dengan Kinerja Walikota Riza Falepi


PKS Payakumbuh - Nyaris tiga tahun tak turun ke sawah, akhirnya sejak Januari 2014, puluhan petani di Kelurahan Sungai Durian, Kecamatan Lamposi Tigo Nagori (Latina), kembali bergairah masuk sawah. Lebih kurang 28 hektar sawah milik petani itu, sudah dialiri air, lewat sistem pipanisasi. Sebesar Rp150 juta lebih, dana APBD dikucurka, buat mengalirkan air ke sawah ini lewat pipa berukuran 300 mm.

Ketika Walikota Riza Falepi berkunjung ke Kelurahan Sungai Durian, Senin (14/4), petani setempat, langsung menyampaikan ucapan terimakasih yang tulus kepada walikota. “Terimakasih banyak pak walikota, kami sudah dapat bertanam (menanam padi, Red) kembali. Kalau tidak pertolongan pak walikota, entah bagaimana nasib kami petani kecil ini,” sebut Buyuang Bulan mewakili petani setempat.
Menurut Buyung Bulan, jika padinya menjadi, mereka berniat akan berikan beras buat keluarga walikota. “Meski tidak banyak, tapi pak walikota harus menikmati beras, dari hasil padi yang kami tanam,” kata Buyung Bulan.
Walikota Riza Falepi, di depan puluhan petani tersebut, mangaku terharu dengan pernyataan polos petani setempat. Pasalnya, sawah milik puluhan petani itu, selama ini sulit mendapatkan air. Hujan yang diharapkan pun, tak mampu menolong menyuplai air, karena tanah yang berpasir.
Melihat kondisi itu, Walikota Riza Falepi, perintahkan Kadis PU Muswendri Evites dan Kabid Pengaiaran Muslim, mencari solusi, agar petani setempat bisa turun ke sawah kembali. Solusinya diperoleh, dengan program pemasangan pipa dari saluran irigasi melewati Sungai Batang Lampasi, sepanjang 80 meter. Begitu kegiatan itu rampung Desember 2013, awal tahun 2014, petani tancap gas turun ke sawah, dan sekarang padinya sudah mulai menguning.
Menurut Muslim, program pipanisasi buat menyalurkan air ke sawah, program alternatif bagi Dinas PU untuk pengganti saluran irigasi. Program ini dilakukan, terhadap daerah yang berlembah-lembah, dan tak memungkin membuat saluran irigasi. Dibanding dengan pompanisasi yang butuh biaya operasional sangat besar, program pipa jauh lebih kecil. Tahun 2013, selain di Sungai Durian, program yang sama juga dibangun di Kelurahan Prambahan kecamatan yang sama.(rfk)

Ketua DPP PKS Wilda Sumatera Di Prediksi Lolos Ke Senayan


PKS Payakumbuh -  Rapat pleno rekapitulasi perhitungan hasil perolehan suara tingkat provinsi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi dengan KPU Kabupaten Kota se-Riau Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) tahun 2014 telah usai pada pukul 21.30 Wib, Kamis (24/4/2014) malam.

Berdasarkan input data 12 KPU Kabupaten Kota se-Riau, GoRiau.com mencoba menganalisis wajah-wajah Caleg yang akan mewakili suara rakyat Riau di Senayan.

Untuk Dapil Riau I, ada enam wakil rakyat yang akan duduk di DPR RI:
1. Effendi Sianipar (PDIP)
2. Tabrani Maamun (Golkar)
3. Jon Erizal (PAN)
4. Rita Zahara (Gerindra)
5. Sutan Sukarnotomo (Demokrat)
6. Chairul Anwar (PKS) 

(rfk)

Anis Matta: Etnis Melayu Paling Lentur dan Mudah Membaur

Written By Birrul waalidain on Jumat, 04 April 2014 | 01.00


PKS Payakumbuh - Presiden PKS Anis Matta mengatakan etnis Melayu merupakan etnis yang paling lentur dan mudah membaur dengan etnis lain. Hal ini dikatakannya saat berpidato di hadapan masyarakat Pulau Penyengat di halaman Masjid Sultan Riau, Penyengat.

"Etnis Melayu adalah etnis yang paling lentur dan mudah membaur dengan etnis lain," ujar Anis Matta, Sabtu (9/11).

Anis mengatakan kelenturan itu pula lah yang menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan Indonesia.

"Indonesia yang memiliki ratusan etnis ini bingung ketika memutuskan sebuah bahasa persatuan hingga akhirnya bahasa Melayu yang dipilih," katanya.

Kenapa bukan bahasa Jawa yang dipilih karena digunakan oleh sebagian besar penduduk.

"Karena bahasa Melayu dalam strukturnya mengandung nilai egalitarianisme atau persamaan. Bahasa yang sederhana dan bisa menyerap kosa kata dari bahasa yang lain. Dan tata bahasanya juga mudah. Oleh karena itu bahasa melayu digunakan sebagai bahasa persatuan," terang Anis.

Anis Matta juga mengatakan Gurindam yang ada di tanah Melayu ada kesamaan dengan syair dalam bahasa arab pada jamannya. Misalnya akhiran katanya yang seragam.

"Yang saya herankan org Melayu disini kawin dengan orang Bugis anaknya jadi raja. Jadi kalau anak saya kawin dengan orang Melayu bisa juga jadi raja," ujar Anis berseloroh.

Dalam kesempatan kunjungan ke Pulau Penyengat ini Presiden Anis Matta dan rombongan selain  mengunjungi Masjid Sultan Riau juga ke Makam Raja Haji Fisabilillah dan keluarga kesultanan Riau Lingga.[dm]

Ini "Jet Pribadi" Anis Matta yang Dipakai Kampanye di Kalimantan

Written By Birrul waalidain on Kamis, 03 April 2014 | 17.47


BANJARMASIN (2/4/2014) - Hari ini Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta mengunjungi Kalimantan dalam rangkain kegiatan kampanye PKS.

Sebelum memulai rangkain acara kampanye, Anis Matta menyempatkan untuk mengunjungi museum perjuangan rakyat Kalimantan Selatan, Museum Wasaka, yang terletak di Banjarmasin.

Museum Wasaka adalah sebuah museum perjuangan rakyat Kalimantan Selatan. Wasaka singkatan dari "Waja Sampai Kaputing" yang merupakan motto perjuangan rakyat Kalimantan Selatan.

Museum bertempat pada rumah Banjar Bubungan Tinggi yang telah dialih fungsikan dari hunian menjadi museum sebagai upaya konservasi bangunan tradisional.

"Dalam setiap kunjungan ke daerah, saya selalu menyempatkan berkunjung ke situs-situs sejarah..," ujar Anis Matta via akun twitternya.

"Ini penting dilakukan.. dan salah satu agenda besar PKS adalah menghidupkan kembali sejarah dengan merevitalisasi situs2 sejarah yang ada..," lanjut Bung Anis menjelaskan alasannya suka mengunjungi situs bersejarah.

Yang istimewa dari kunjungan Presiden PKS ke Museum Wasaka ini adalah rute dan kendaraan yang digunakan.

Bersama pengurus PKS setempat, Anis Matta dan rombongan naik "Jet Pribadi" yang mengapung membelah sungai Martapura Kalimantan :)

"Jet Pribadi" yang dipakai Presiden PKS ini orang sini menyebutnya "Keloto".

Bersama tokoh-tokoh Kalimantan yang juga pimpinan PKS Habib Aboe Bakar Al-Habsyi dan Habib Nabiel Al-Musawa, tampak Presiden PKS ini sangat menikmati perjalanan dengan "Jet Pribadi". (piyungan)

Tentukan Pilihanmu Bersama Pemuda Keadilan Sejahtera!

Written By Birrul waalidain on Rabu, 02 April 2014 | 17.55


PKS Payakumbuh Ketika diam tak lagi emas, tak akan ada perubahan dari diamnya pemuda. Sampai seorang Tan Malaka memberikan ruh kata-kata pada pemuda, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang pemuda punya”.

Pemilu memang bukan satu-satunya cara untuk merubah negeri ini dari keterpurukan, namun, pemilu menjadi mata rantai terhadap apa yang telah kita usahakan sebelumnya pada bidang lain. Jangan buang kesempatan yang didepan mata, jangan biarkan sejarah kita ditulis oleh orang lain, karena diamnya kita.

Soekarno pun berteriak lantang pada pemuda yang apatis,"Siapa ingin mutiara harus berani terjun di lautan yang dalam". Ingin Indonesia lebih baik, namun apatis berkontribusi untuk NKRI, ahhh...kemana jiwa mudamu kawan?

Aku ingin bertanya padamu wahai pemuda, atau yang dijiwanya masih mengalir darah muda. Carilah keseluruh penjuru bumi, tentang perubahan sebuah bangsa, apakah pemuda yang berpangku tangan bisa merubah keadaan? Pasti didalamnya kau temukan pemuda sebagai agent of change.

Sebagai pelopor, pemuda menjadi garda terdepan dalam roda perubahan. Bahkan Al Faruk ditengah kegundahannya tak segan-segan memanggil pemuda. “Setiap kali saya menghadapi masalah-masalah besar yang saya panggil adalah anak-anak muda (Umar bin khattab”)

Lalu bagaimana menjadi pemuda yang baik? Sederhana saja, singkat dan padat, seperti penjelasan Ali bin Abi Thalib RA,"Bukanlah pemuda yang berkata,”Inilah bapakku!” tapi pemuda itu adalah yang berkata,”Inilah aku!”.

Pemuda Keadilan Sejahtera, bukan cerita baru jika kami selalu tergerak bila ada bencana. Sudah menjadi rahasia umum, daerah terpencil dan sukar ditempuh oleh aparat terkait, kami bisa lebih dahulu datang membantu kelokasi bencana.

Dimana-mana di seluruh persada tanah air Pemuda Keadilan Sejahtera pernah pijakan kakinya untuk dekat, membantu dan peduli pada saudara setanah air, dan sekali lagi tanpa membedakan suku, agama atau bahkan ketika yang ditolong tak memilihnya dalam pemilu. Jiwa melayaninya terpatri kuat, bahwa pemimpin adalah pelayan bagi umat dan pemuda adalah penerus sah tongkat estafet kepemimpinan di negeri ini.

Apa bahan bakar para Pemuda Keadilan Sejahtera, hingga nafas asanya tak pernah putus untuk dekat dan melayani? Inilah rahasia itu.

Para pahlawan harus berhasil membangun "bunker" dalam jiwa mereka
tempat kunci-kunci daya hidup mereka tersembunyi dengan aman
itulah yang membuat mereka santai dalam kesibukan
tersenyum dalam kesedihan
tenang dibawah tekanan
bekerja dalam kesulitan
optimis didepan tantangan
dan
gembira dalam segala situasi
(AMPM)

Pemilu semakin dekat, coblos nomor 3!
Karena pemuda PKS itu setia dan mempesona

(Trijoyo Adi)

Anis Matta: Kinerja lebih penting daripada pencitraan media

Written By Birrul waalidain on Senin, 31 Maret 2014 | 10.58


by @anismatta
Presiden PKS


Alhamdulillah, sore2 tadi (29/3/2014) menikmati kota Bandung bersama Pak Wali@ridwankamil.. Saya kagum pd visinya..

Pertama, kami ke Taman Jomblo, lalu ke Taman Persib.. Lewat taman @ridwankamil membuat Bandung jd kota yg ramah & manusiawi..

Saya dan Pak Wali @ridwankamil berbagi mimpi yg sama, Bandung bisa jadi kota internasional..

Sy kenal @ridwankamil sejak th 98.. Ketemu wkt saya ke Amerika utk ceramah..

PKS mengusung @ridwankamil pd pilkada lalu dgn komitmen utk bekerja keras memajukan Bandung..

Bandung punya semua syarat utk jadi kota dunia: sejarah, budaya, kampus, kesenian, orang2 yg ramah & terbuka.. @ridwankamil

Pemimpin Indonesia masa depan salah satunya berasal dr pemimpin daerah usia muda yg sukses.. Contohnya @ridwankamil

Saya selalu menyempatkan dtg ke Bandung utk melihat kemajuan dan berdiskusi dgn Kang @ridwankamil

Saya dan @ridwankamil juga berbagi komitmen utk bekerja keras tanpa gembar-gembor.. Kinerja lbh penting drpd pencitraan media..

Mari kita dukung & doakan Pak Wali @ridwankamil dpt memenuhi harapan urang Bandung, bekerja dgn penuh amanah..

Oya, di Taman Persib, saya tos2an penalti, masing2 nendang 3 kali, sy ngegolin satu & saya tangkis semua tendangan Pa Wali @ridwankamil :)

Di Taman Jomblo sy doakan semoga jomblo di seluruh Indonesia segera dpt jodoh.. Spy nanti setelah pesta demokrasi, bnyk pesta pernikahan :)

Semoga Bandung makin maju dipimpin @ridwankamil

Anis Matta Akan Mengindonesiakan Budaya Berdagang

Written By Birrul waalidain on Jumat, 28 Maret 2014 | 18.39


Disetiap daerah yang didatanginya, Anis Matta pasti selalu mempunyai materi kampanye yang khusus dan sesuai dengan daerah tersebut. Di lapangan Imam Bondjol, Padang, Sumatera Barat (Sumbar) Anis Matta dalam orasinya juga menyampaikan bahwa salah satu kunci kesuskesan ada pada berdagang, dan Anis Matta sangat salut dengan jiwa berdagang yang dimiliki oleh orang-orang Minang.

“Kalau mau makmur dan sejahtera ya berdagang. Kelak kalau saya diamanahkan jadi Presiden, salah satu program saya adalah mengindonesiakan kultur budaya Minang yaitu berdagang. “Orang Minang itu kaya raya karena hobi berdagang,” ucap Anis Matta penuh semangat.

Selain itu, Anis juga mengajak para simpatisan untuk ‘memutihkan’ istana. ”Istana ini sudah pernah merasakan merah, sudah pernah rasa kuning, sudah pernah rasa biru. Yang belum apa?” tanya Anis sambil kepada belasan ribu peserta kampanye, di lapangan Imam Bonjol, Padang, Sumbar, Selasa (25/3/2014).

“Putih!!!” teriak massa dengan antusias.


[Anismatta.net]

Bertemu di Padang, Anis Mampir ke Pesawat Pribadi Surya Paloh


Presiden PKS Anis Matta dan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh sama-sama berkampanye di Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Selasa (25/3) kemarin. Keduanya sempat bertemu dan berbincang di Tanah Minang.

Pantauan di ruang VIP Bandara Minangkabau, Padang, Sumbar, Anis lebih dulu datang dengan mobil Camry hitam B 1200 KAA sekitar pukul 09.20 WIB. Menyusul Paloh yang datang pukul 10.08 WIB.

Paloh lebih dulu bertemu Gubernur Sumbar Irwan Prayitno. Irwan yang dari PKS memang sejak kemarin menemani Anis berkampanye di Padang. Suasana yang cair dan hangat diperlihatkan keduanya.

Anis tak kunjung keluar ruangan VIP hingga akhirnya tak bertemu Paloh yang keburu menuju pesawat pribadinya yang berlogo NasDem. Paloh tidak berlama-lama, hanya sekitar 15 menit dan langsung masuk ke pesawat Lineage 1000 itu.

Anis lalu keluar ruangan VIP mengikuti Paloh. Dia naik ke atas pesawat menemui Bos Media Group itu. Keduanya sempat berbincang hangat sekitar 20 menit ditemani Gubernur Sumbar di kabin mewah pesawat Nasdem itu.

"Ngobrol yang umum-umum saja. Beliau mengapresiasi PKS dan juga PKS mengapresiasi NasDem sebagai partai baru," kata Anis usai keluar dari pesawat.

Kedua petinggi partai itu memang sedang berada di Tanah Minang dalam rangka kampanye. Selasa (25/3) kemarin, Anis berorasi di lapangan Imam Bondjol sedangkan Paloh memimpin kampanye di Stadion Haji Agus Salim.

Keduanya pun tak sempat bersua karena hari ini, Anis melanjutkan kampanye ke Medan, Sumatera Utara. Sementara, Paloh bertolak ke Solo, Jawa Tengah. [dtk]

Pleno KPUD Padang: Mahyeldi-Emzalmi Unggul 1.698 Suara

Written By Birrul waalidain on Selasa, 11 Maret 2014 | 17.56


Berdasarkan hasil rekapitulasi suara Sidang Pleno KPU Padang atas Pilwalkot putaran kedua yang digelar hari ini, Selasa (11/3) di Hotel Inna Muara, Padang, pasangan Mahyeldi-Emzalmi unggul dengan perolehan suara 148.864. Sedangkan pasangan Desri Ayunda-James Helyward memperoleh 147.166 suara.

Dengan demikian pasangan yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menjadi pemenang Pemilihan Walikota-Wakil Walikota Padang periode 2014-2019 dengan selisih 1.698 suara.

Putaran kedua pilkada ini digelar karena pada putaran pertama beberapa waktu lalu, dari sepuluh pasangan tidak ada satu pasangan pun yang meraih suara 30%. Dua pasangan yang terbanyak meraih suara berhak mengikuti putaran kedua.

Dalam putaran pertama, pasangan Mahyeldi-Emzalmi meraih 92.218 suara (29,46%), sementara Desri Ayunda-James Helyward memperoleh 59.845 suara (19,11%).

Desri Ayunda-James Helyward yang maju dari jalur independen, di putaran kedua disokong oleh hampir seluruh partai mengeroyok pasangan Mahyeldi-Emzalmi yang diusung PKS dan PPP.

(foto: pasangan Mahyeldi-Emzalmi saat pengundian nomor urut, dapat nomor urut 10 dari 10 pasangan yang berlaga di Pilwalkot Padang)

Mencermati "Tarian Politik" PKS



Oleh: Afrianto Daud

Suka atau tidak, semenjak kelahirannya partai yang sebelumnya bernama PK ini terus saja menjadi sorotan publik, menjadi buah bibir dan mungkin juga sering ‘dipergunjingkan’. PKS seperti tidak pernah kehabisan energi dan ide untuk tetap bisa membuat berita. Setiap aksi, kebijakan, perilaku dan ucapan para politisinya tak jarang menimbulkan pro dan kontra, melahirkan sejuta cerita dengan nada warna warni; mulai dari puja puji pecinta sejatinya sampai caci maki para pembencinya. Terlalu banyak list untuk dibuat di sini terkait isu pro kontra dari partai yang lahir di era reformasi ini. Jika anda mengikuti berita politik Indonesia 15 tahun terakhir, anda pasti bisa menemukan sendiri contoh pro kontra yang saya maksud.

Sekali lagi, berjuta pasang mata terus memperhatikan aksi dan liukan tarian mereka di panggung politik Indonesia selama lima belas tahun itu. Jutaan jemari mungkin juga telah menari menuliskan namanya pada keyboard komputer, laptop, tablet dan sejenisnya. Karenanya, tak heran hasil riset Independent Research Institute (IRI) yang melakukan penelitian dan survey perbincangan tentang partai politik di sosial media periode Januari-Februari 2014 menyimpulkan bahwa PKS adalah salah satu partai populer yang banyak diperbincangkan di media sosial. Jika anda ketikkan kata kunci “PKS AND Partai” pada mesin pencari google, sedikitnya anda akan menemukan 9,000,000 entry dengan kata kunci ini.

Menariknya, partai ini tidak hanya dibahas dan menjadi perhatian banyak orang di dalam negeri, namun juga oleh banyak pengamat dan pemerhati politik Indonesia di luar negeri. Sebutlah diantaranya Dr. Karen Brook (Dosen di Cornel University-USA),Ellen Nakashima (jurnalis Washington Post), Sydney Jones (peneliti di International Crisis Group/ICG), atau Greg Barton (professor di Monash University, Australia). Mereka adalah para Indonesianis yang cukup sering membahas PKS. Di dunia akademik, fenomena PKS juga telah mengilhami banyak sarjana untuk meneliti dan menganalisa fenomenanya secara ilmiah. Ratusan sarjana, dari S1 sampai S3 telah meneliti partai ini. Yang paling banyak dikutip adalah thesis doktoral Yon Machmudi(The Rise of Jemaah Tarbiyah and the Prosperous Justice Party/PKS), di Australian National University (ANU), dan juga thesis master pengamat politik terkenal, Burhanuddin Muhtadi, dari universitas yang sama. Analisa tentang fenomena PKS juga datang dari Najwa Shihab (presenter Metro TV), ketika dia bersekolah di Fakultas Hukum, Melbourne University.

PKS itu Beda

Populer di media atau di mesin pencari semisal google tentu tidak serta merta berarti bahwa partai ini adalah partai yang hebat. Karena bisa saja orang terkenal karena jeleknya ^^. Poin saya adalah, adalah fakta bahwa partai ini adalah ‘unik’ dan karenanya selalu menarik untuk dibicarakan. PKS adalah anak kandung reformasi, karena mayoritas aktivisnya adalah mereka para pelaku gerakan mahasiswa saat menumbangkan Suharto tahun 1998. Tidak hanya itu, terlahir dari rahim pergerakan adalah salah satu yang membuat partai ini berbeda dengan yang lain. Mereka membesar bukan karena bertumpu pada satu dua sosok yang dominan, namun pada sistem dan ideologi yang kuat. Inilah diantara alasan yang membuat mereka bisa bertahan dari pemilu ke pemilu, bisa selamat dari ‘tsunami SBY’ pada pemilu 2009, tetap eksis bahkan di tengah amuk badai - serangan dari ‘tujuh penjuru mata angin’ saat kasus LHI mencuat.

Ya, pengkaderan yang sistemik dan ideologi keIslaman yang kental adalah kekuatan partai ini. Sebagaimana diakui oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Tjahjo Kumolo kepada media baru-baru ini, bahwa PKS dan PDIP adalah diantara sedikit partai dengan pola kaderisasi dan ideologi yang relatif baik. Di dua partai ini, sangat jarang ditemukan ada seseorang yang bisa ‘tiba-tiba’ menjadi petinggi struktural partai. Dari sisi ideologi, Anis Matta mengatakan bahwa PKS memiliki kader dengan mentalitas ‘pemburu surga’. Dari pilihan kata ini, anda bisa eksplor sendiri seberapa kuat dan dalamnya ideologi kader partai berlambang padi emas ini.

Dari aspek pengkaderan ini, PKS beruntung karena mereka berhasil masuk dan diterima oleh kalangan menengah terdidik di masa-masa awal pendiriannya. Sebagaimana diungkap oleh Burhanuddin Muhtadi dan kemudian menjadi pengetahuan publik bahwa sejarah PKS tidak bisa dipisahkan dari gerakan tarbiyah yang booming di kampus-kampus besar (sekuler) Indonesia pada akhir 80-an atau awal 90an. Karenanya, mayoritas kader PKS itu dari dulu sampai sekarang adalah para mahasiswa. Anda yang kuliah pada tahun 90-an (dan juga sekarang), mungkin pernah ‘bersentuhan’ dengan aktifitas tarbiyah mereka atau minimal berinteraksi dengan aktivis mereka. Sebagian anda bahkan mungkin pernah jadi kader, bertemu jodoh melalui komunitas PKS, walau sekarang mungkin sudah gak lagi aktif (karena berbagai alasan) ^^. Sebagian lagi tentu masih banyak yang setia dengan manhaj dan cita-cita perjuangannya.

Para pelaku politik persis paham bahwa PKS adalah partai dengan kader mahasiswa dan sarjana terbanyak dibanding partai lain. Saya melihat para mahasiswa inilah kemudian yang berjasa besar membesarkan PKS sampai ke sudut-sudut kampung. Karena ketika mereka menjadi sarjana, sebagian mereka pulang, dan kemudian menyebarkan dakwah dan pemikiran mereka di kampung mereka. Dalam struktur ekonomi dan sosial kita, seringkali para sarjana inilah yang kemudian menjadi informal leader di kampung mereka. Pada saat yang sama, PKS pun kemudian dikenal dan menjadi pilihan di kampung-kampung itu. Inilah diantara faktor yang menjelaskan mengapa suara PKS pada pemilu 2009 tidak hanya relatif signifikan di perkotaan (sebagaimana pemilu 1999 dan 2004), tetapi juga menyebar ke berbagai pelosok kampung/desa.

Dari sisi ideologi, terobosan ideologi politik mereka (baca: ijtihad politik) yang memadukan antara dakwah yang suci dengan politik yang (biasanya dipersepsi) kotor adalah keunikan yang lain. Bahwa perjuangan mereka di panggung politik jauh melampaui tujuan-tujuan politik singkat, seperti sekedar meraih kekuasaan an sich. Karenanya inilah satu-satunya partai yang kadernya sering menolak jika ditawari (baca: dicalonkan) menjadi penguasa atau menjadi caleg saat pemilu. Inilah juga partai yang dengan mudah melakukan pergantian ketua umumnya, tanpa intrik dan atau kegaduhan seperti di partai lain.

Komunitas PKS adalah mereka yang sedang berusaha mempraktekkan nilai-nilai Islam yang syumul (komprehensif) di lembaga negara. Islam yang tidak hanya bicara masalah aqidah dan ibadah mahdah, namun juga bicara tentang aspek politik, ekonomi, pendidikan, dan sosial budaya. Mereka sedang dan terus belajar bagaimana menjadi pribadi muslim yang baik di level individu, namun juga terampil dalam mengelola negara dan pemerintahan, memakmurkan rakyat, dan sekaligus memperkenalkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Tidak hanya di panggung politik, jauh sebelum mendeklarasikan partai, parak aktifis dakwah tarbiyah itu juga menjadi bagian penting dalam gerakan islamisasi banyak aspek kehidupan di tanah air sejak awal tahun 80-an. Jika ditelesik, di bidang pendidikan, misalnya, kader mereka adalah diantara individu yang menjadi trend settermunculnya lembaga pendidikan Islam semisal Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) yang sekarang menjamur. Mereka juga bagian dari tumbuhnya semangat ekonomi Islam di tanah air, dengan munculnya Baitul Mal wa Tamwil (BMT) dan juga bank syariah. Belum lagi gerakan jilbab yang massif di kalangan muslimah dan alternatif seni serta literasi Islam pada tahun-tahun itu. Pelajarilah sejarahnya, saya yakin anda akan bertemu dengan cerita para kader gerakan dakwah tarbiyah ini di balik semua itu.

Doktrin untuk menjadikan dunia politik sebagai ladang dakwah di satu sisi adalah suatu hal yang ideal, namun di sisi lain dia juga menjadi ‘lubang semut’ yang kapan saja bisa menjadi bumerang bagi PKS. Terutama ketika partai ini dianggap ‘gagal’ menjalani misinya. Di titik inilah kita bisa memahami ‘kemarahan publik’ saat PKS juga terbawa-bawa kasus korupsi pada kasus LHI (walaupun saat ini kasusnya masih belum memiliki kekuatan hukum tetap).

Sekali lagi, banyak yang marah ketika PKS juga terseret kasus korupsi itu, walau pada saat yang sama partai lain juga tersandung kasus korupsinya dan sudah terbukti jauh lebih banyak. Namun kalangan kritis ini beralasan PKS pantas dipelototin karena membawa-bawa agama ke panggung politik. Walau saya tentu juga setuju agar PKS jauh dari isu korupsi, namun alasan terakhir bagi saya adalah misleading. Orang beragama bisa saja salah atau khilaf. Sebagaimana orang yang berpuasa dan sholat juga kadang melakukan kesalahan. Kemudian, statemen di atas juga bisa salah dipahami bahwa seakan-akan partai dengan ideologi non agama (misal, kebangsaan dan nasionalis) boleh dan bisa dimaklumi jika korupsi, dan gak perlu dimaki. Apa memang ideologi kebangsaan dan nasionalis serendah itu?

Menari di tengah badai

Proses membesarnya PKS tentu tidaklah mulus. Panggung politik adalah medan perang. Sejarah pertumbuhan PKS juga diwarnai berbagai serangan, demarketting, black campaign, dan fitnah. Baik yang datang dari kekuatan asing, rival sesama parpol, maupun dari kelompok yang secara ideologis berseberangan dengan ideologi Islam yang dibawa PKS. Parpol Golkar misalnya sudah lama memberi warning para fungsionarisnya tentang potensi ancaman dari PKS terhadap esksistensi mereka sebagai partai tua. Gesekan juga terjadi sesama aktivis ormas dan partai Islam, karena PKS dianggap ‘merebut’ lahan yang sama dengan mereka. Serangan yang paling kuat dan konstan biasanya datang dari aktivis liberal dan sekularis yang menganggap ideologi yang dibawa PKS mengancam eksistensi ideologi mereka.

Aktivis liberal dan kaum sekuler di Indonesia sepertinya tak pernah berhenti melancarkan serangan kepada partai ini. Isu yang paling banyak dilemparkan adalah bahwa PKS adalah partai yang eksklusif, Islam yang dibawa PKS adalah Islam yang tidak toleran dan tidak inklusif, atau menuduh PKS sebagai partai yang tidak memiliki jiwa Indonesia dan nasionalisme. Adalagi serangan dengan praktik pologami segelintir elit PKS, ataupun isu bahwa PKS membawa hidden agenda akan menjadikan Indonesia negara Islam.

Biasanya kader PKS menjawab segala tuduhan ini dengan kerja dan kerja. Bahwa di lapangan para aktivis mereka bisa bergaul dengan siapa saja, termasuk dengan mereka yang beda agama sekalipun – tentu dengan tidak harus menggadaikan aqidah. Tentang nasionalisme, saya yakin darah mereka dan cinta mereka terhadap Indonesia sama kuat dan merahnya dengan mereka para nasionalis sejati. Jika Indonesia hari ini diserang oleh asing misalnya, saya haqqul yakin, para kader PKSlah diantara mereka yang pertama angkat senjata jika diperintahkan negara untuk membela tanah air, sebagaimana dulu kemerdekaan Indonesia juga direbut dan diperjuangkan oleh pekikan Allah Akbar oleh para santri.

Terkait hidden agenda, para elit PKS semisal HNW dalam beberapa kesempatan sudah sering mengatakan bahwa bentuk negara bangsa dan Pancasila itu adalah final. Sydney Jones sendiri selain menyebut PKS sebagai partai paling cerdas, juga mengatakan bahwa PKS bukanlah partai radikal. Dia percaya bahwa PKS adalah partai yang commited menjalankan prinsip-prinsip demokrasi. Beberapa ceramah dan tulisan Anis Matta pada beberapa waktu terakhir yang membahas gelombang ketiga Indonesia juga menyiratkan bahwa bagi PKS pembahasan dan debat tentang sistem pemerintahan, pertanyaan tentang relasi agama dan negara itu sudah tidak relevan. Saatnya kita sebagai bangsa memasuki gelombang baru dimana semua kekuatan bangsa bersatu untuk peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup di bawah sistem demokrasi yang makin mapan.

Kalangan liberal juga menghantam ideologi transnasionalisme yang dibawa PKS, dimana kadang mereka seperti lebih peduli dengan saudara-saudara muslim yang jauh, seperti Palestina, dan mengabaikan saudara dekat yang juga butuh bantuan. Saya yakin tuduhan seperti ini lebih didasari sentimen ideologi, karena membantu saudara yang jauh tidak berarti melupkan saudara dekat. Jika pengkritik ini benar-benar paham PKS, maka seharusnya mereka tahu bahwa kader PKS adalah diantara kelompok yang hampir selalu ada bersama susah senangnya masyarakat. Para kader mereka selalu siaga dalam setiap aksi bantuan pasca bencana, misalnya. Anda bisa tanya kepada rakyat Aceh saat tsunami, siapa diantara kelompok pertama dan terakhir (yang paling lama bertahan) dalam membantu korban saat tragedi tsunami tahun 2004 lalu. Belum lagi banyak kader mereka yang menjadi relawan di lembaga-lembaga sosial seperti Dompet Dhuafa, Post Keadilan Peduli Ummat (PKPU), MERC, ataupun Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Kembali pada serangan tadi, pasca kasus LHI, banyak sekali suara sumbang yang meragukan eksistensi dan keberlangsungan PKS di masa datang, terutama (kembali) datang dari aktivis liberal dan beberapa kalangan kritis rasional yang menguasai sosial media. Bentuk sentimen dan sinisme para oposan ini bisa dengan mudah anda lacak di berbagai jaring socmed atau di situs berita online. Jika kelompok pertama membenci PKS karena alasan ideologis, kelompok kedua adalah mereka yang kecewa dengan beberapa fakta media terkait PKS yang mungkin masih bisa diperdebatkan.

Namun, ijinkan saya menyampaikan di sini bahwa mesin PKS terus saja bekerja dalam diam. Dengan cara mereka, PKS tetap bisa meliuk dan menari di tengah badai. Para oposan PKS mungkin bisa saja berteriak sampai ke langit di media sosial agar PKS mati, namun jantung kaderisasi PKS terus berdenyut. Jutaan kader mereka terus bekerja dan berkhidmat untuk negeri. Kader mereka yang diamanahkan di lembaga eksekutif terus membuat prestasi demi prestasi (Anda bisa telusuri sendiri deret panjang penghargaan yang diterime Aher dan Irwan Prayitno, misalnya). Gemuruh PKS, sekali lagi tidak hanya di media sosial, di perkotaan, namun juga melintas sungai dan pulau, lembah dan gunung, melewati samudera (sedikit lebbay ya :D). Jika eksistensi parpol itu dilihat dari pemerolehan suara pemilu dan pilkada, saat ini kader PKS dipercaya menjadi gubernur di empat propinsi: Sumbar, Jabar, Sumut, dan yang terbaru Maluku Utara.

Saya tentu tidak sedang mengatakan bahwa PKS sama sekali adalah zero masalah. Saya menyadari bahwa PKS bukanlah partai malaikat. Karenanya sangat mungkin melakukan kekeliruan dan kesalahan., baik di level individu maupun komunitas. Saya berharap nurani PKS bisa mendengar segala kebisingan masyarakat yang kritis terhadap PKS belakangan. Bahwa tidak semua mereka yang mengkritik itu karena benci, saya yakin juga karena cinta. Perbanyaklah mendengar, berefleksi, meresapi, dan membalas semuanya dengan perbaikan dan amal yang lebih baik.

Bagimana dengan adanya fakta bahwa sebagian kecil kader yang keluar (atau dikeluarkan)? Bagi saya sendiri hal itu bukanlah sesuatu yang luar biasa. Jangankan keluar dari PKS sebagai parpol, sejarah Islam justru juga diwarnai sebagian sahabat rasul yang keluar (murtad) dari Islam. Mereka yang murtad itu justru generasi yang pernah bertemu dan berinteraksi lansung dengan rasulullah SAW. Jika bahkan dari agamapun ada orang yang memutuskan keluar, apalagi hanya dari parpol semisal PKS. It is not a big deal sekali lagi. Saya tahu ada satu dua ustadz mantan pendiri PK yang ‘berijtihad’ untuk say good bye pada partai ini, namun pada saat yang sama ada ratusan atau mungkin ribuan ustadz yang tetap setia dan Insyallah terus ‘menjaga’ kapal dakwah bernama PKS ini agar tetap on the right track.Asumsi sederhananya, tidak mungkin 99 orang majlis syuro atau para asaatidz di dewan syariat yang memiliki pemahaman syariat yang baik akan membiarkan atau malah bersepakat berbuat maksiat atau melakukan sesuatu yang menabrak prinsip-prinsip syariat.

Memimpin Indonesia

Melihat karakter PKS yang unik, saya optimis bahwa partai ini akan terus membesar. Bukan tak mungkin, para kader partai inilah yang akan dominan mewarnai dinamika kepemimpinan nasional kita pada masa yang akan datang. Formula sederhananya, jika ingin melihat kepemimpinan Indonesia sepuluh tahun yang akan datang, maka lihatlah kepemimpinan lembaga kemahasiswaan di berbagai kampus hari ini.

Dulu kita bisa melihat bagaimana para kader HMI menguasai banyak lembaga kemahasiswaan di kampus pada era 80-an dan 90an awal. Sekitar sepuluh tahun kemudiaan, merekalah yang dominan mewarnai kepemimpinan nasional kita 10 tahun belakangan (anda bisa melihat fenomena ini dengan memperhatikan beragam tokoh yang mengunjungi Anas Urbaningrum dulu setelah menjadi tersangka, atau ketika Anas membuat PPI setelah itu - mereka adalah para kader HMI yang tersebar di banyak posisi).

Dan jika kita kembali ke kampus dan melihat fenomena kepemimpinan lembaga mahasiswa hari ini, suka atau tidak, anda akan menemukan bahwa mayoritas lembaga kemahasiswaan kampus itu, baik yang di Jawa maupun di luar Jawa, cukup banyak ‘dikuasai’ oleh para mahasiswa yang berideologi kanan, seperti PKS. Sejak pertengahan tahun 1990an, para mahasiswa yang secara ideologi berafiliasi dengan PKS ini berhasil menggeser dominasi aktivis HMI. Karenanya, sekali lagi, bukan tak mungkin, merekalah yang akan menjadi pemimpinan nasional lima atau sepuluh tahun yang akan datang.

Banyak memang yang meragukan bahwa cita-cita PKS untuk masuk tiga besar pada pemilu 2014 hanyalah impian belaka. Tapi seperti saya katakan, jutaan kader mereka terus bekerja dalam senyap. Ada yang dengan sinis bilang, ini tidak zamannya lagi memilih partai, tapi memilih tokoh. Iya, saya setuju. Saya bicara PKS di sini tidaklah dalam konteks PKS sebagai kardus kosong yang berisi ‘hantu blau’, tapi PKS sebagai kumpulan manusia dengan semua prestasi dan keunikan jutaan kadernya.

Tentu kita berharap bahwa jika memang PKS ditakdirkan menjadi pemimpin nasional, mereka bisa menjadi pemimpin yang amanah, yang membawa Indonesia menjadi lebih baik. Kita juga berharap bahwa PKS bisa memahami Indonesia yang plural. Jati diri Indonesia adalah keberagaman itu senidri. Karenanya, dalam mengelola negara dan pemerintahan PKS harus bisa menjalin kerjasama dengan semua golongan, termasuk dengan kelompok sekuler dan nasionalis. Indonesia yang majemuk tidak bisa dikelola oleh salah satu kelompok saja. Sekali lagi, PKS harus bisa bekerjasama dengan semua kekuatan bangsa dan bekerja untuk kepentingan semua golongan, tidak untuk kepentingan sempit kelompok tertentu, apalagi hanya untuk golongan PKS. Waktunya bagi PKS untuk memperkenalkan praktek Islam sebagai rahmatan lil alamin itu di lapangan, tidak hanya dikhutbahkan dari mimbar kajian para ustadz selama ini. Wallahu’alam.


* Penulis adalah pemerhati masalah sosial politik, mahasiswa doktoral di Monash University, Australia.

Sumber: kompasiana.com 

Fahri Hamzah Nilai PDIP Takkan Pernah Capreskan Jokowi


Wasekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Fahri Hamzah, menyatakan dirinya meyakini Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, alias Jokowi, takkan pernah dicalonkan oleh PDI Perjuangan sebagai capres di pemilu 2014.

"Saya tak percaya Jokowi akan dicalonkan PDIP. Karena itu akan menjadi modal bagi lawan-lawan politik PDIP dan Jokowi untuk menyerang motif aji mumpung mereka," kata Fahri di Jakarta, Selasa (4/3).

Dalam kerangka itu, serangan-serangan itu akan membuat PDIP kehilangan DKI Jakarta sebagai basis pembangunan politik yang sudah lama lepas dari tangan mereka.

Apalagi kalau Jokowi hendak dicapreskan menjelang pemilu legislatif 9 April. Menurut Fahri, hal itu akan berbuah negatif karena semua kubu parpol dan capres akan menggalang seluruh kekuatan kampanye mereka untuk menyerang PDIP.

"Dan yang paling akan menjadi operatornya adalah partai yang selama ini dikorbankan oleh naiknya PDIP, yakni partai pemerintah," kata dia.

Alasan kedua yang membuat Fahri tak yakin PDIP akan mencapreskan Jokowi, adalah partai banteng merah itu belajar dari kasus Mangku Pastika di Bali dan Bibit Waluyo di Jateng. Yakni terkait loyalitas. Baik Pastika atau Bibit, agak mirip Jokowi dimana basis mereka bukan kaderisasi internal.

Karena itu, Fahri menyatakan dirinya tak percaya bahwa Megawati akan menyerahkan senjata pamungkas, posisi capres itu, kepada Jokowi secara sungguh-sungguh.

"Kecuali hanya untuk diiming-imingkan saja. Terutama Megawati, beliau sangat sakit hati dengan kejadian di Bali dan Jateng itu," kata dia.

Argumen loyalitas, lanjutnya, juga menjadi titik tolak untuk menilai masa depan PDIP sendiri sebagai partai yang mempertahankan trah presiden Soekarno.

Kalaupun disebut Megawati, sebagai ketua umum PDIP, bisa saja mengontrol Jokowi sebagai presiden, seperti terjadi di India dengan Sonia Gandhi, menurut Fahri, hal itu takkan mungkin terjadi.

Menurut Fahri, Megawati dan Sonia Gandhi berbeda. Di India, Sonia tak boleh jadi Perdana Menteri (PM). Tapi sebagai ketua partai, dia bisa mengontrol 100 persen PM Singh karena negara itu menerapkan sistem parlementer.

"Dalam sistem demikian, nyawa itu di ketua partai. Kalau di Indonesia, presiden adalah penguasa prerogatif. Ketua partai tak ada gunanya," kata Fahri.

"Jadi mustahil kalau Megawati membiarkan seolah-olah dia akan bisa mengontrol Jokowi," tandasnya.[beritasatu]

Mahyeldi yang Saya Kenal


Oleh: Afrianto Daud
PhD Candidate, Monash University

Saya akan sedikit bercerita tentang beberapa penggal catatan pengalaman saya berinteraksi dengan sosok bernama Mahyeldi Ansharullah yang saat ini menjabat sebagai sebagai wakil walikota Padang dan kembali mencalonkan diri menjadi calon walikota Padang periode 2013-2018. Nama ini cukup populer di kalangan aktivis dakwah kampus era 90-an di kota Padang, karena Mahyeldi muda pada waktu itu adalah salah seorang Ustadz muda yang aktif mengisi berbagai pelatihan dan atau daurah dakwah kampus yang bersemi di beberapa kampus besar di kota Padang pada periode itu.

Pertemuan saya pertama kali dengan Mahyeldi adalah ketika saya ikut sebagai peserta Orientasi Anggota Baru Unit Kegiatan Dakwah Kampus (UKK) IKIP Padang pada tahun 1995. Mahyeldi Ansharullah adalah nama yang tercatat sebagai salah seorang pembicara pada kegiatan ini. Walaupun bukan sebagai seorang yang memiliki latar belakang pendidikan agama formal, namun semangat Mahyeldi dalam mendakwahkan Islam terlihat sangat menggelora.

Aura semangatnya bisa jelas terlihat dalam setiap hentakan katanya yang menggelegar ketika membahas kondisi ummat Islam yang terpuruk, dan kepeduliannya pada setiap usaha perbaikan generasi muda Islam. Karena semangatnya inilah kemudian belakangan saya dengar dia digelari sebagai ‘Umar’nya dakwah kampus kota Padang pada waktu itu. Semanagat dan pengorbanannya untuk dakwah Islam, misalnya, terlihat dengan keberaniannya naik sepeda motor tua menerobos angin, hujan dan kegelapan malam dari Padang ke Kab. Kericinci ‘hanya’ untuk mengisi sebuah taklim dan pembinaan masyarakat di sana.

Setelah menjadi anggota baru pada kegiatan dakwah kampus IKIP Padang, saya semakin sering bertemu dan berinteraksi dengan beliau. Interaksi itu tidak hanya di ruang-ruang pelatihan di kampus, atau di masjid, namun juga di lapangan terbuka ketika saya beberapa kali bersama beliau dalam kegiatan outound berupa perkemahan. Interaksi saya semakin intens ketika saya pernah tinggal di markas PKS Sumbar dimana waktu itu Mahyeldi adalah ketua umumnya. Saya ikut menjadi ’seksi sibuk’ (baca: bersih-bersih ^_^) sebelum dan setelah pengurus DPW rapat di markas. Kami pernah berkeliling Sumbar bersama tim aksi peduli PKS Sumbar atas musibah banjir dan longsor yang pernah melanda Sumatera Barat pada sekitar tahun 2000.

Selama saya berinteraksi dengan Mahyeldi, salah satu karakter yang menonjol dari beliau - selain semangat berdakwah yang bergelora seperti yang saya sebut di atas - adalah sifat kesederhanaannya dalam bergaul sesama. Dia tidak akan risih berbaur dengan kami para junior yang jauh berada di bawahnya. Kesederhanaan itu sudah terlihat sejak dia menjadi pimpinan Yayasan Pendidikan Al Madani dulu, ketika dia dan keluarga hidup sederhana dan berbaur sangat baik dengan kami mahasiswa. Seorang teman yang pernah berkunjung ke rumah dinas Mahyeldi saat menjabat wakil walikota pernah mengaku ‘risih’ dan ’sungkan’ sekali saat bertemu Mahyeldi, karena dimatanya Mahyeldi ‘terlalu baik’ untuk ukuran seorang pejabat publik. “Dia sangat rendah hati,” kata teman saya itu.

Kepeduliannya terhadap orang lain adalah diantara karakternya. Cukup banyak teman-teman saya yang bercerita bagaimana Mahyeldi dan keluarga pernah membantu kesulitan mereka saat dulu menjadi mahasiswa. Saya dan keluarga juga pernah mengalami ini. Sebuah kepedulian yang mungkin akan tetap saya ingat, meskipun mungkin beliau sendiri sudah lupa.

Ceritanya adalah ketika kami dianugerahkan anak pertama, Raudhatul Jannah. Sebagai keluarga muda yang baru mulai menata kehidupan berumah tangga, kami berusaha hidup mandiri di kota Padang, jauh dari keluarga besar saya dan atau keluarga istri saya. Kemandirian itu berlanjut saat istri saya akan melahirkan anak pertama. Sedikit panik dan gugup, karena itu adalah pengalaman pertama kami mengurus kelahiran bayi, akhirnya bayi itu lahir dengan selamat. Adalah sebuah kebahagiaan sendiri bagi kami bisa melalaui proses kelahiran anak pertama tanpa ‘menyusahkan’ anggota keluarga kami yang lain. Walau tentu, segera setelah kelahiran itu, kami mengabarkan berita gembira itu kepada seluruh keluarga dekat dan beberapa teman.

Dan pagi itu orang tua saya dalam perjalanan dari Pesisir Selatan menuju Padang untuk menjenguk cucunya yang baru lahir. Dan yang bikin surprise adalah selang satu jam setelah kelahiran anak kami, terdengar pintu ruang persalinan dimana istri saya melahirkan diketuk dan terdengar salam. Dan, ternyata yang datang adalah sepasang suami istri, sosok lelaki bersahaja, berjenggot lebat dengan rambut mulai memutih, Mahyeldi Ansharullah bersama istrinya. Waktu itu Mahyeldi adalah ketua DPW PKS Sumbar. Setelah dipersilahkan masuk, Mahyeldi menyalami dan memeluk saya, seraya mengucapkan selamat telah jadi ayah. Saya tentu surprise tak menduga bisa mendapat kunjungan secepat itu. Entah darimana Mahyeldi mendengar berita kelahiran anak kami (mungkin dari SMS yang saya kirim ke beberapa teman). Terus terang, kedatangan Mahyeldi dan keluarga sebagai pihak pertama yang mengunjungi anak kami menjadi catatan tersendiri bagi saya dan keluarga.

Kisah-kisah positif tentang Mahyeldi cukup banyak saya dengar dari teman-teman saya yang lain. Jauh sebelum Jokowi mempopulerkan istilah blusukan, Mahyeldi telah lama mempraktikkannya, bahkan sebelum dia menjadi pejabat publik. Terakhir saya bertemu dengannya ketika mengunjungi dan memberi bantuan untuk warga kota Padang yang menjadi korban gempa sekitar tahun 2007. Setelah itu saya hampir tak pernah bertemu fisik dengannya. Termasuk ketika dia menjadi wakil walikota Padang sekarang.

Entah mengapa, saya punya kecenderungan ‘menghindar’ bertemu dengan orang-orang yang saya kenal ketika mereka menjadi pejabat publik. Termasuk ketika Mahyeldi dan rombongan walikota Padang mengunjungi korban langsor di Tanah Datar beberapa tahun yang lalu. Saya sengaja menutup kepala saya dengan helm gelap, dan berbaur bersama masyarakat yang menyambut kedatangan bapak wakil walikota Padang itu. Dari balik kaca gelap helm, saya perhatikan lelaki asal Bukittinggi itu masih seperti dulu, terlihat bersahaja, berjenggot putih, dan tetap bersemangat seperti saat di kampus dulu.

Saya doakan semoga lelaki ini tetap Istiqomah dengan kebersahajaan ini, tetap sehat dan panjang umur, sehingga bisa semakin berkhidmat kepada Masyarakat. Salam dari saya dan keluarga.

Melbourne,Australia

(Kompasiana)
 
Support : Creating Website | Dubalang Template | Riza Falepi Site
Copyright © 2011. PKS Payakumbuh - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by PKS Payakumbuh
Proudly powered by Blogger